Gelora Kemenangan dalam Balutan Hangatnya Silaturahim

“Beri aku 1000 orangtua dan akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 1 pemuda dan akan kuguncangkan dunia.”
(Soekarno)

Kutipan dari Soekarno, yang disampaikan oleh Dwi Permadi tadi menjadi salah satu quote favorit saya (setidaknya sampai saya menuliskan ini, ^^) semenjak mengikuti rangkaian acara HTTS (Hari Tanpa Tembakau Sedunia) yang diadakan oleh BEM FKM (2/6). Menyimak acara ini semakin menambah greget saya untuk mendukung adanya kawasan bebas asap rokok di UNDIP dan mengkampanyekan gerakan berhenti merokok, hmm. FKM sudah mengawalinya, saatnya kawasan sekitar FKM mengikutinya. Apapun alasannya, ‘Tuhan Sembilan Senti’ membahayakan kesehatan dan tidak patut untuk dinikmati.

 
Actually, saya ingin berbagi kebahagiaan melalui tulisan ini. Ketika mengikuti HTTS di hari sabtu ini, ALLAH tengah memberikan kesembuhan hampir 90% atas sakit saya selama 2 minggu lebih. Saya bisa beraktivitas lebih SEMANGAT semenjak pagi hingga malam ini. Perasaan tersebut benar-benar saya nikmati setelah kemarin telpon ibu ayah. Dalam kondisi kantong (benar-benar) kering menunggu kiriman uang saku, (hehe, ^^), budhe juga masuk RS sehingga ayah harus mobile rumah-RS setiap hari, kerinduan akan peluk cium ibu ayah, namun ibu alhamdulillah memberikan kabar gembira. Kabar tersebut waktu itu sampai bisa membuat saya bangkit dari tempat tidur dan membabat habis 3 ember tumpukan cucian dalam waktu seketika, haha. Well, adik kelas saya mendapat peringkat terbaik di UN 2012 di SMA 3 Magelang dan diterima di Pertanian UGM dengan mulusnya. Entah energi apa yang bisa membuat hati saya begitu gembira, karena prestasi adik kelas saya, UGMnya, atau apalah, tapi dada saya begitu lega mendengar kabar tersebut. Selain berita gembira itu, ternyata saya menyadari, saya mulai berdamai dengan suasana yang saya terima saat itu (sakit, tugas-tugas, kuliah yang ‘agak’ tidak jelas akhir-akhir ini, organisasi yang sebentar lagi ditinggal, keluarga besar, etc). Saya memenangkan suasana dan…everything will be OK. Just let it flow, guys, ^^

 
Kabar bahagia yang lain datang juga di saat acara talkshow HTTS berlangsung, saya melihat semangat adik-adik yang luar biasa. Ada adik-adik yang membawakan musikalisasi puisi yang menggebu-gebu, bermain akustik, waw..awesome, mereka mampu menularkan energi positif yang Luar Biasa. Kaget dan bangga juga, di akhir acara, ada keluarga PH yang berpartisipasi di perlombaaan HTTS menjadi juara. Adi Saputro menjadi Juara I lomba Fotografi, Tuti menjadi Juara I lomba Essay, dan Uyut Abhy menjadi juara II lomba Karikatur. Proud of your achievement, my fam..

 
Setelah acara HTTS selesai, saya beralih ke final POR FKM dan PH Carnival (Public Health Carnival) 2012 di halaman FKM. Sorak soray supporter final basket dan juga futsal begitu hebohnya, sempat mengingatkan saya saat melihat pertandingan voli putri antara kelas saya kemarin (Reguler 1) melawan Reguler 2. Baru kali itu, saya bisa larut dalam alunan gempitanya olahraga bersama kawan-kawan. (karena dari dulu saya ga mudeng permainan olahraga2 begituan, hehe. Voli, basket, bulutangkis>> padahal ayah di rumah hobinya bulutangkis dan waktu kecil mau disekolahkan bulutangkis juga, ckckck. Hobinya ya renang dan lari, hmm, karate juga ga kesampean, haha). Saya pun bisa memahami betapa pentingnya dukungan teman (supporter-red) ketika bertanding. Bahkan saya sampai bisa memaknai kata-kata ‘Menang kalah biasa, yang penting R1 TELO !!!’ (maaf banget ya teman-teman, udah uzur baru mudeng,hehe).

 
We are The Champion, We Are The Champion… lagu tersebut mengiringi penyerahan trophy-trophy kejuaraan POR dan PH Carnival senja menjelang magrib ini. Meski tidak menjadi Juara umum, tak apalah. R1 2009 bisa memboyong beberapa piala, benar-benar hebat teman-teman R1 ini. Atlet ada, seniman ada, da’i ada, MANTAP sudah.

Piala yang R1 2009 Bawa Pulang

Inilah kemenangan yang R1 bawa pulang:
1. Juara 1 badminton ganda putra
2. Juara 2 badminton tunggal putri
3. Juara 2 voli putri
4. Juara 3 voli putra
5. Juara 2 pildawa ikhwan

 
Tetap SEMANGAT kawan-kawan.. R1 2009..TELOOOOOO… prestasi kalian Luar Biasa. Saluuuutttt…

 
Kehebohan tidak hanya di angkatan 2009 (angkatan tua, haha) saja, 2010 dan 2011 tak kalah hebohnya. Supporter terheboh dipegang oleh R2 2011. Sementara Juara Umum (panenan juara, ^^) disabet oleh R1A 2010. Kelas-kelas yang lain juga dengan kemenangan mereka msing-masing. Selamat kawan-kawan, Panenlah kemenangan dari Usaha yang kalian tanam!!!

Wajah-wajah para pemenang, ^^. MCnya juga ikutan narsis, ckckck

Untuk keluarga PHku, selamat kepada Yuniva (juga timnya) yang menjadi Juara I Debat, juga Ikhwanus Sobah yang menjadi Juara II Pemilihan Da’i Mahasiswa Ikhwan. Terima kasih, semakin lengkaplah prestasi-prestasi keluarga PH. ^.^v

 
Finally, POR dan PH Carnival malam ini ditutup dengan nasihat bijak dari Pak Priyadi, “I LOVE YOU FULL” kata sayang beliau kepada kami, mahasiswa FKM. Tak lupa, doa pun kami panjatkan untuk mengucap syukur atas segala nikmat kemenangan-kemenangan yang kami raih dan kekuatan silaturahim keluarga FKM UNDIP yang Luar Biasa. Juga, doa special untuk alumni kami yang baru saja berpulang ke Rahmatullah, Kak Emil. (Ketua BEM Era 2000an, beliau baru akan berangkat ke US untuk sekolah lagi, namun ALLAH menakdirkan garis hidupnya menemui titik di usianya kini. Mudah-mudahan istri dan keluarga yang ditinggalkan juga tabah. Amin)

 
Hantaran kebahagiaan malam ini disaksikan oleh terangnya bulan, dan sejuknya angin malam. Membuat setiap dari kami beri’tikad untuk membungkus kebahagiaan-kebahagiaan dalam mikrokapsul-mikrokapsul semangat pencapaian impian yang akan kami raih nantinya dalam kekuatan kerjasama dan silaturahim yang erat.

 

Wahai DUNIA, Wahai Penghuni Langit dan Bumi, Lihatlah!! Ada Pemuda-Pemuda yang Memiliki Impian.
Saksikan Kami Bersatu, dan Inilah Kami. Putra-Putri FKM UNDIP.

Terima kasih Rabb, karena sudah menuliskan garis hidupku untuk menjadi bagian dari keluarga FKM. Banyak hal yang didapat di tempat ini. Harapan, ketika saya harus meninggalkannya nanti, bukan ‘Apa saja yang FKM berikan untuk saya’. Namun, ‘Kontribusi dan kebaikan apa saja yang sudah saya berikan untuk almamater ini?’ Terus berSEMANGAT untuk menyelesaikan target-target selama 1 tahun terakhir (insyaALLAH) di FKM ini. If I think I can, I can. Innalllaha ma’ana, ^^

FKM… Salam Sehat!!!
UNDIP…Jaya!!!

Published in: on June 2, 2012 at 10:15 pm  Comments (2)  

Saat Angka “20” Menyapa

Umpamakan ada seorang perempuan, yang hampir berumur 20 tahun. Suatu ketika ada yang mengetuk pintu rumahnya, seorang laki-laki yang berniat memintanya dari sang ayah. Atau sebuah keluarga yang menginginkan sang  perempuan untuk menjadi pendamping bagi putranya. Sementara sang perempuan tidak menyadari bahwa dia sudah berumur dan ‘hampir’ pantas menikah, dia sama sekali tidak menyangka akan ada hal seperti itu. Apa reaksinya???

Taruhlah saya menjadi perempuan itu, maka reaksi pertama saya adalah “TERTAWA”.  Ya, itu adalah reaksi sesungguhnya dari seorang ‘saya’ ketika pertama kali dipanggil ayah dan ibu karena masalah pernikahan. Sontak reaksi saya tidak bisa menahan tawa, batin saya “Ya ampun, serius nih, gue masih asik sekolah. Eh ada orang ngelamar.” Reaksi balik dari ayah adalah, “Serius ini, ga main2!!”.

Berbeda halnya dengan reaksi-reaksi berikutnya ketika ada yang datang pada ayah ibu, mengajak berbesan, atau semacamnya. Bukan lagi “TAWA” yang keluar, namun “AIRMATA” yang mengalir dari sudut-sudut mata ini. Permasalahan mengenai reaksi tersebut akhirnya saya sadari. Tidak lain karena kesiapan pribadi dalam menghadapi pernikahan. Reaksi awal “TAWA” karena pikiran masih menempatkan pribadi saya menjadi anak kecil yang masih ditimang-timang ayah ibu. Sementara “AIRMATA” yang keluar, menyadari betapa tidak mudah menerima kenyataan, “Hey, gue uda berumur nih. 20 tahun, perempuan pula. Wajar lah. Bentar lagi gue udah mau pisah sama orangtua. Sepenuhnya jadi milik keluarga laki-laki itu.” Sementara di lain sisi, impian-impian saya belum teraih. Unpredictable!!

Perjalanan yang tidak mudah ketika dalam masa-masa akan dikhitbah (dilamar-red) sampai memberikan sebuah keputusan. Terkadang banyak intervensi, satu pihak memberikan saran untuk menerima. Pihak lain berkata hendaknya ditolak saja. Namun, semua kembali pada pribadi sendiri dan pertolongan ALLAH. Menghalau setiap bisikan setan yang mungkin bisa membelokkan kemurnian hati. Istikharah, sampai benar-benar memantapkan pilihan. Maka di setiap pilihan itu ada konsekuensi yang harus kita ambil. Itulah hidup.

Menikah, bagi saya bukan perkara yang bisa dibuat mainan. Sekali dalam seumur hidup. Calon suami yang dipilih mutlak adalah imam dunia akhirat. Ibaratkan keluarga adalah sebuah kapal, maka suami adalah nahkodanya. Ia yang kemudian memegang kendali dan paham navigasi. Menikah, adalah peralihan masa bagi seorang perempuan dari seorang putri raja menjadi ahli surga. Menjadi ahli surga karena segala apa yang dilakukannya untuk/bersama suami dan keluarganya kelak menjadi bernilai pahala, bahkan berlipat, konsekuensi yang berat pun tak luput menyertainya. Ketika lontaran kalimat, “Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bilmahrilmadzkur haalan” Seketika itu mutlak kepatuhan seorang perempuan sudah bukan pada ayahnya, tapi pada suaminya. Ia sudah tidak dalam pangkuan sang ayah, namun dalam rengkuhan sang suami. Menikah, bukan berikatan dengan suami saja. Namun juga dengan keluarganya, dua budaya yang menjadi satu dan harus diselaraskan agar menjadi harmoni.

Menolak bakal calon suami, bukan berarti yang ditolak itu tidak baik pribadinya. Mungkin saja, ia berbeda prinsip hidup dan visi hidup dengan sang perempuan. Meski terkadang ada alasan pribadi dari sang perempuan dan keluarganya kenapa menolak khitbah tersebut. Harapannya, sang lelaki dan keluarganya juga bisa menerima dengan hati lapang penolakan tersebut. Sikap yang bijak terhadap penerimaan ataupun penolakan, sangatlah berharga untuknya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS Al Baqarah : 216)

Lapangkanlah hati kita. Tenanglah, insyaALLAH Rabb kita sudah menuliskan siapa pendamping kita, saudaraku.. lauhul mahfudz sudah menjadi filling cabinet yang sangat aman dalam menyimpan data jodoh, rizki, sampai kematian kita. Yang perlu kita lakukan adalah menyiapkan bekal-bekal. Bekal yang cukup dengan terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas pribadi. Sampai suatu masa ada yang datang mengetuk pintu rumah saya lagi, saya sudah siap. Senyumanlah yang akan menghiasi raut muka saya. Yakinlah, jika kita menjadi pribadi yang baik, ALLAH juga menyiapkan yang baik pula.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”

(QS Annur : 26)

Menikah, utamanya bukan dengan siapa. Namun, akan seperti anak kita nanti. Maka ayah dan ibunya jua sebagai salah satu penentunya. Bukankah Imam As Syafi’i memiliki ayah dan ibu yang sangat terjaga, sehingga di usia muda Imam As Syafi’i sudah sedemikian ‘alimnya. Bukan beridealis tinggi, terkadang, perlu ada pertimbangan-pertimbangan pribadi dalam menentukan pilihan. Hal-hal yang dipersyaratkan Rasul pun hendaknya dipenuhi.

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia.” Muttafaq Alaihi

Begitulah, ketika usia 2o (yang akan segera berganti menjadi 21 ini) menyambangi. Siapkan dirimu, wahai para muda. Ketika memiliki target pribadi akan impian-impianmu, komunikasikanlah, itu jauh lebih baik. Tempaan-tempaan keras dalam hidup ini nantinya lebih terasa ringan. Untuk para srikandi, tahukah kalian??? Laki-laki yang datang pada orangtuamu, mengajak untuk membangun bahtera rumah tangga bersamamu, nilainya sangat tinggi di hadapanmu. Ketimbang mereka yang hanya mengumbar kata-kata sayang, tanpa kejelasan akan tanggung jawabnya bersamamu kelak. Terkadang, tak cukup acungan tangan untuk mengapresiasi keberaniannya. Dialah sang Arjuna yang sejati.

Untuk ayah dan ibu, terima kasih, atas kepercayaannya pada segala keputusanku. Mudah-mudahan masih cukup waktuku, untuk berbakti sepenuhnya padamu. Love U mom, dad, ^.^v

Published in: on May 20, 2012 at 8:59 am  Comments (2)  

URGENSI RISET BACA

Era konglomerasi media yang semakin menjadi dewasa ini, membuat pelaku media kelabakan. Siapa yang mampu merangkul pasar, dialah yang akan memenangkan persaingan. LPM PH, dalam hal ini termasuk pelaku media yang mempunyai pasar civitas akademika FKM UNDIP. Untuk mengimbangi apa yang sekarang tengah merebak di dunia perkembangan media, alangkah lebih baik jika PH turut mengetahui pangsa pasar. Hal yang dimaksud di sini adalah minat pasar terhadap produk-produk PH yang sesuai dengan yang dikehendaki oleh civitas akademika FKM UNDIP.

Guna mengetahui segmentasi pasar mengenai produk-produk PH, diperlukan sebuah riset baca. Selama 2 periode kepengurusan di LPM PH (2010-2011), belum pernah ada riset baca yang dilakukan. Hanya warta dari mulut ke mulut mengenai analisa produk, tanpa disertai adanya data yang real dan kuat. Menurut penuturan PU LPM PH tahun 2009, Mb Zulmi, dulu pada periodenya pernah diadakan sebuah riset baca. Target utama dari riset baca ini untuk mengetahui keefektivan majalah dan keinginan public akan content majalah. Hasil dari riset baca terbilang masih mengecewakan, karena sebagian besar public menginginkan rubrik-rubrik yang tidak sesuai dengan visi misi PH pada waktu itu, sebut saja Zodiak, Gosip, dan beberapa rubrik lain.

Berdasarkan apa yang pernah dilakukan dulu, sebuah harapan muncul, yaitu untuk melakukan riset baca. Idealnya, sebuah riset baca bisa dilakukan 2x dalam satu kepengurusan. Pada awal/akhir tahun dan pada tengah tahun. Instrumen yang digunakan untuk riset baca ini adalah polling, sehingga penanggung jawab riset baca adalah Litbang. Pemikiran akan adanya riset baca tercetus kembali pada periode 2011. Namun, riset baca yang dikehendaki belum dapat terealisasikan. Alasan mendasar belum terealisasikannya riset baca dikarenakan sifat pengadaan polling yang insidental (di luar request sub divisi majalah), tidak terencana dengan baik. Di luar itu, karena agenda litbang yang banyak dan waktu pelaksanaan yang sukar untuk dicari.

Berbicara lebih lanjut mengenai urgensi riset baca, belum pas jika belum melibatkan 3 pilar LPM PH, yaitu Litbang, Redaksi, dan Perusahaan. Akan sangat mendongkrak kemajuan LPM PH jika 3 pilar ini mampu bekerjasama dalam mengeksekusi riset baca. Riset baca ini dimulai dengan koordinasi litbang, redaksi, dan perusahaan mengenai goal apa yang akan dicapai sesuai dengan visi misi PH. Hasil dari koordinasi akan dieksekusi oleh litbang dalam bentuk polling, sasarannya dari semua elemen civitas akademika. Perolehan hasil polling kemudian diconvert dan difollow up sesuai dengan kebutuhan.

Riset baca yang sinkron dengan visi misi PH, akan sangat efektif digunakan dalam 2 hal,

  1. Redaksi, dalam hal mendongkrak produk-produknya. (buletin, majalah, lembar incidental, cybernews, e-magz). Semisal: intensitas pemberitaan di cyber ditingkatkan, buletin berwarna, isu-isu yang ditampilkan di buletin lebih mengena, era gadget yang semakin canggih juga diprediksi akan mempengaruhi minat pembaca terhadap produk-produk cetak PH, dan lain sebagainya)
  2. Perusahaan, dalam hal lobbying dan branding produk PH saat mencari iklan dan memperluas jaringan (LPM lain, dosen, alumni). Semisal: seberapa banyakkah pembaca buletin PH, di titik-titik mana saja produk-produk biasa diakses, dan lain sebagainya)

Memandang selangkah ke depan, jika riset baca dapat dikonsep dengan baik dan direalisasikan, maka LPM PH mempunyai peluang lebih banyak untuk melebarkan sayapnya. Kredibilitas LPM PH di mata public dan relasi mengenai based data tidak diragukan lagi. Besar harapan, mudah-mudahan pemikiran ini tidah berhenti sebatas wacana saja, namun dapat direalisasikan oleh kepengurusan mendatang.

Sukses selalu, Salam Litbang, Salam Elit dan Membanggakan ^.^v

 

Rifqi Utari, karena Ph adalah keluarga, 3 pilar=1 PH

Magelang, 31 Desember 2011, 11.25,

dedikasi masa-masa terakhir menjelang akhir jabatan Pimlit PH 2011,

Sebuah wacana sederhana, untuk kemajuan PH…

Published in: on January 5, 2012 at 11:12 am  Leave a Comment  

Berhenti Menjadi ‘Budayawan’ Korupsi

Impian saya ketika masih anak-anak hingga SMA adalah menjadi budayawan. Begitu tertariknya saya untuk menjadi budayawan karena alasan yang sederhana, saya suka kearifan dalam  tari Jawa dan wisata di sekitar kampung halaman saya. Di benak anak-anak yang polos saat itu, tidak terpikir sama sekali bahwa budaya akan mengalami pergeseran, tetap begitu saja, menarik dan menyenangkan untuk dipelajari. Sampai saya duduk di bangku perkuliahan, saya kemudian berpikir ulang, malunya diri ini jika menjadi budayawan sedang budaya yang tenar saat ini adalah budaya korupsi. Malunya saya jika nantinya mendapatkan julukan ‘budayawan’ korupsi.

Kasus korupsi yang tercatat di Indonesia angkanya terus mengalami peningkatan dari tahun  ke tahun. Indonesia masih menempati level  tertinggi di Asia Tenggara dalam ‘prestasi’ korupsi. Intensitas pemberitaan korupsi pun serasa tiada henti di berbagai media. Peningkatan angka korupsi hingga mencapai 50 %, hasil studi penelitian Indonesian Corruption Watch tahun 2010 pun seakan hanya berupa Ice Berg Phenomenon, fenomena gunung es. Kasus yang terlihat hanyalah puncak kecil sebuah gunung es, sedang di bawah permukaannya yang tidak diketahui oleh publik, saya yakin sungguh tak terhitung. Kasus itu luput dari pengamatan. Budaya korupsi telah mengakar di masyarakat. Bagaimana hal ini tidak menjadi budaya, jikalau setiap waktu kita terus dicekoki dengan kasus-kasus korupsi. Terus dan tanpa jeda.

Pergeseran buruk budayadi masyarakat  inilah yang mendasari saya untuk berubah haluan. Berawal dari keinginan menjadi budayawan, kemudian menjadi seorang dosen. Teman-teman saya menanyakan perubahan orientasi tersebut, pertanyaanya: “Kenapa memilih menjadi dosen?”.  Menurut saya dengan menjadi dosen, saya akan memperoleh banyak keuntungan, termasuk saya bisa memulihkan citra budayawan. Pertanyaan selanjutnya: “Bagaimana bisa?”. Dengan bangga dan penuh optimisme saya jawab, “Pasti Bisa”.

Demi mewujudkan impian saya menjadi seorang dosen, saya memulainya dengan langkah  belajar yang nyata. Memutuskan menjadi guru les privat di sela waktu kuliah saya. Saya memutuskan pilihan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Saya meyakini bahwa setiap kita memiliki impian, kita harus mendekati jalan menuju impian tersebut, dalam hal ini, menjadi guru les privat. Fee menjadi guru les itu hanya efek saja menurut saya. 3 pertemuan setiap minggu, dengan durasi 1,5 jam setiap kali pertemuan, itulah yang saya jalani.

Setiap kali saya mengisi, saya berusaha menjadi guru les yang profesional, memenuhi hak belajar adik les sebagaimana mestinya. Menepati jam belajarnya, tanpa berusaha menguranginya. Datang tepat waktu, serta berusaha menghindari keterlambatan jam datang. Bagi saya, mencoba mengurangi waktu sama halnya dengan belajar korupsi. Hakikatnya, korupsi sendiri adalah melanggar hak orang lain dengan menguranginya. Saya bisa saja korupsi waktu, sering banyak kesempatan saya hanya ditinggal berdua dengan adik les tanpa ditunggui orangtuanya. Tidak akan ketahuan kalau saya mengurangi durasi belajar. Penerapan aji ‘mumpung’ sangat efektif jika digunakan dalam interaksi saya dan adik les saya. ‘mumpung’ ibunya sedang pergi, ‘mumpung’ adik les saya tidak melihat jam persis ketika saya datang. Satu menit dua menit, dan tidak ada protes. Tapi saya memilih untuk tidak melakukannya. Saya yakin, Allah Maha Mengetahui.

Sebuah cerita yang senantiasa melekat di benak saya, ketika masa kepemimpinan sahabat Rasulullah yaitu Umar bin Abdul Aziz berjaya. Beliau sangat berhati-hati dalam menggunakan fasilitas dan uang negara serta kaum muslimin di jamannya. Beliau hanya akan memakai lampu di rumah-rumah untuk keperluan kaum muslimin, untuk keperluan pribadi dan keluarganya, beliau akan menyalakan lampu dengan uang pribadinya. Beliau sadar antara hal yang menjadi haknya dan yang bukan menjadi haknya. Jika Umar bin Abdul aziz mampu menahan diri dari korupsi, kita pun juga bisa. Menurut saya, hal  yang terpenting dalam pencegahan korupsi adalah dengan kesadaran. Kesadaran setiap pribadi tentang apa yang menjadi haknya. Kita tidak akan mengambil hak orang lain kaalu kita sadar dengan hak kita. Tidak ada lagi aji ‘mumpung’ dan pemakluman untuk korupsi.

Pernah seorang teman membuat anekdot, jika kita dihadapkan oleh uang seribu rupiah saja yang bukan hak kita, mungkin kita akan serta merta menolak. Akan tetapi lain cerita kalau kita dihadapkan dengan uang 1,5 milyar rupiah. Pasti kita akan berpikir ulang untuk menolaknya. Begitu anekdot yang disampaikan teman saya karena sudah terlalu membudayanya korupsi di masyarakat kita.

Solusi pemberantasan korupsi, saya mulai dari diri saya sendiri. Solusi yang paling efektif adalah dengan edukasi pribadi yang dilanjutkan dengan edukasi orang lain di sekitar kita. Sistem itu, jika setiap orang sadar pentingnya memberantas korupsi dan mau ambil andil, pasti akan sukses dalam pencapaian tujuannya. Bahkan akan lebih sukses dari sekadar MLM (Multi Level Marketing) karena di dalamnya ada investasi akhirat. Proses pemberantasan itu tidak cukup sekali dua kali dilakukan, cukup dengan sekali selesai kasus lalu berpuas diri. Namun, pemberantasan korupsi harus berkesinambungan. Terus menerus di segala bidang.

Setiap elemen dari masyarakat hendaknya mengambil peran dalam memberantas korupsi. Tugas tidak hanya dibebankan padapemerintah, dalam hal ini KPK saja. Sedang saat ini kepercayaan masyarakat terus menurun dengan kinerja KPK.. Dari survei LSI bulan Juni-Juli 2011 ini, kepercayaan masyarakat Indonesia menurun 30% dan terus menunjukkan grafik penurunan. Saya yakin KPK sendiri pun tidak akan menyentuh ranah yang (dianggap) kecil olehnya. KPK akan bergerak di tataran yang (dianggap) berada di level atas saja. Alangkah baiknya jika masyarakat pun  turut berperan dalam memberantas korupsi. Dimulai dari tataran yang (menurut KPK) bukan ranahnya, yaitu tataran rendah, masyarakat harus turun tangan sendiri. Karena korupsi kecil dan rendahan di masyarakat itulah, korupsi yang besar mencuat dari akarnya dan berkembang menjadi budaya.

Hilangkan mind set atau pola pikir apatis dalam benak kita. Merasa bahwa tugas memberantas korupsi bukanlah tugas kita, tidak mau ambil pusing, cukup dengan pribadinya, dan cuek, hendaknya disingkirkan. Budaya korupsi yang semakin menjadi, memaksa kita untuk segera beraksi. Di manapun dan apaun profesi kita, kita harus ambil peran dan saling bekerja sama. Tidak akan  ada cerita satu orang saja bisa memberantas korupsi, dibutuhkan orang-orang yang berkomitmen memberantas korupsi saling bekerja sama, interdisiplin ilmu. Peran kita semakin nyata dibutuhkan. Dulu, korupsi masih sebatas bersembunyi di bawah meja saja, sekarang sudah terang-terangan di atas meja, bahkan semeja-mejanya pun dikorupsi. Tunggu apa lagi kita mewujudkan kontribusi nyata kita?

Sebagai seorang dosen nantinya, saya yakin bisa ambil andil lebih dalam memberantas budaya korupsi. Jalannya, dengan edukasi. Sebuah anekdot, “Kalau sudah tidak ada kasus koruptor, lalu apa tugas KPK dan jaksa?”. Tugas selanjutnya adalah, edukasi. Bersama saya nantinya, dan  masyarakat. Memberikan edukasi cegah korupsi. Menurut pribadi saya sendiri, mencegah korupsi akan lebih efektif daripada harus berpusing-pusing mengusut kasus-kasus korupsi. Sebagai dosen pula saya mempunyai keyakinan akan menjadi budayawan teladan. Bukan ‘budayawan’ korupsi seperti saat ini, tapi menjadi ‘budayawan’ edukasi.

Langkah yang awal dimulai sejak saat ini. Bermula dari diri kita pribadi. Tidak korupsi waktu, tidak menghalalkan yang bukan haknya. Memberikan tauladan kepada orang-orang di sekitar kita dengan  prinsip edukasi cegah korupsi yang kita miliki. Sebagai mahasiswa, saya bisa memberikan edukasi lewat tulisan. Media ini saya siapkan khusus untuk edukasi cegah korupsi. Siapkan diri kita dengan  niat dan optimisme akan perubahan era dan jaman menjadi lebih baik tanpa korupsi. Mari visualisasikan Indonesia ke depan yang lebih baik. Di mana setiap orang tidak akan ada yang ,melanggar hak orang lain. Berhenti menjadi ‘budayawan’ korupsi. Saya siap. Begitu pun dengan Anda.

Published in: on January 5, 2012 at 11:09 am  Comments (2)  

LAWATAN CINTA, UNTUK PH

Bismillahirrahmanirrahim..

 

Insan-insan pengubah dunia, adalah mereka yang bisa memetik pelajaran dari setiap kejadian.

Mereka akan selalu belajar dari lingkungan yang positif.

Menjadikan setiap kesempatan menjadi sesuatu yang penuh makna.

 

Yogyakarta, 26 Desember 2011

          Kursi beton yang saling berhadapan di depan sebuah rumah bernomor B21 di kompleks perumahan dosen UGM, menjadi tempat penantian kami. Saya bersama seorang teman berpakaian club sepakbola AC Milan dan seorang adik berpakaian MU, berjanji akan bertemu dengan  awak-awak BPPM Balairung pada hari itu. Efek samping studi banding (11/9) yang kurang lama mungkin, sampai kami harus melawat lagi ke UGM. Atau karena sang Pemimpin Umum PH yang baru, yang selalu bersemangat ketika menyambut ajakan ke UGM, lupakan. Saya bersama Marianus dan Dwiyanto, memang berniat melawat lagi ke Balairung. Impian akan kehidupan PH yang lebih baik lah yang mendorong kami, hingga Marianus dan Dwi rela menempuh perjalanan 90 km lebih untuk sekadar berdiskusi dengan teman-teman Balairung. Kehausan akan ilmulah, yang memanggil jiwa kami sejenak meluangkan waktu di minggu tenang pra UAS,untuk bertandang ke relasi di UGM ini, padahal teman-teman yang lain mungkin sudah asik dengan diktat kuliah mereka masing-masing. Inilah pilihan kami.

          Pukul 10 lebih, sekre Balairung masih dengan suasana sejuknya, dan spanduk sisa-sisa oprek yang masih bertengger di pelataran, sekre terasa sepi. Tama, PU baru Balairung belum nampak. Namun, kami tetap menunggu. Satu keluarga kami yang ditunggu-tunggu pun belum hadir, Yuniva. Herannya, dia yang bertempat tinggal di Yogya, justru belum ada. Hanya tertawa saja dengan ulah anak PH yang satu ini. Sembari kami melepas lelah setelah perjalanan, Tama pun datang. Dia yang ternyata rela menunggu dari pukul 9 pagi, belum sarapan, dan terpaksa ke angkringan dulu untuk memenuhi hak tubuhnya. Tanpa banyak prolog, kami pun memulai diskusi seputar PH dan Balairung. Di forum ini, sebenarnya saya hanya sebagai pengantar saja, Rian dan Dwi lah yang memang haus akan ilmu ke-Perusahaan-an. Benar-benar cakrawala kami terbukakan di forum ini. Saya melihat greget yang tersirat dari muka-muka Rian dan Dwi akan kemajuan perusahaan PH tahun depan. Salut untuk mereka.

          Awak Balairung generasi pembaharuan satu per satu susul menyusul berdatangan. Seakan kami keluarga sendiri, mereka begitu supel dan ramah menyambut kami. Fitri (pimred), Fadli (pimprus), Ratri, Jojo, Abud, Lady, semua cair dalam suasana diskusi yang hangat, diselingi dengan gurauan, yang makin membuat betah kami  semua di bawah rindangnya pohon beringin B21. Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 11 lewat. Diskusi kami sudah meluap-luap, namun Yuni tetap saja belum datang. Kami semua menantimu Yun, batin kami, karena kamu yang juga bersemangat untuk menggali ilmu tentang ke-Redaksi-an, datanglah segera. Beberapa saat setelahnya, dia datang, lengkap dengan satu paket konsekuensi keterlambatan yang meluluhkan hati kami, 3 botol minuman dan 2 bungkus cookies. Yummy.

          Diskusi yang semakin seru, kami pangkas sementara guna memenuhi panggilan ALLAH di waktu dhuhur. Setelah itu, kami berlaga kembali dengan argumen-argumen seputar PH dan Balairung, lebih tepatnya fokus utama mengenai redaksi dan perusahaan. Semangat yang menggebu makin nampak pada diri Rian, Dwi, dan Yuni. Pertanyaan seputar webmaster, percetakan, menjaga eksistensi lembaga, kavling iklan, siasat menghadapi birokrasi, diklat, riset baca, dan banyak lainnya  meluncur halus dari mulut mereka. Mereka melontarkan impian-impian yang sungguh membuat saya tertegun penuh haru. Kalau semangat mereka sudah sedemikian besarnya, maka saya mematok semangat 27 kali di atas mereka. Sampai sedemikian besarnya semangat mereka, sampai tawaran menggiurkan percetakan murah di Jogja pun akan mereka sambangi. Bahkan, jika memang benar-benar mendukung untuk mencetak produk PH tahun depan, sang Pimpinan Redaksi bekerjasama dengan sang Pimpinan Perusahaan PH, rela meluangkan waktunya tiap bulan untuk ke Jogja. Sungguh, semangat yang membuat saya tersenyum penuh bangga.

        Sayang sebenarnya, masih ingin berlama-lama di sekre Balairung. Namun, kami juga punya target waktu untuk kembali ke Semarang. Jadilah saat itu kami berpamitan. Saya menahan kelu haru untuk meninggalkan kampus biru ini. Terima kasih Tama dan jajarannya. Mungkin suatu ketika, kami akan bertandang kembali dengan suasana yang lebih ramah lagi. Atau, kami akan melawat relasi yang berada satu atap dengan Balairung, Bulaksumur. Entahlah, suatu ketika nanti.

        Keramahan awak Balairung tak berhenti di situ saja. Kami makan siang bersama di Soto Lamongan Pak No, daerah Karangmalang. Sambil menggoda anak-anak PH yang baru kejatuhan risky, kami saling menodong meminta traktiran. Yuniva dengan pajak motor barunya, Dwiyanto dengan pajak HP barunya, dan Rian dengan pajak natalannya, semuanya saling mengelak. Tanpa disangka-sangka, risky traktiran datang dari Fadli, awak Balairung yang sedang mengembangkan usaha kaos kampusnya. Karena kami tamu katanya, dan karena kaos kampusnya sudah mulai dikenal anak UNDIP juga. Super sekali. Setelah makan siang, Lady mengantar kami menuju Berkah Offset, percetakan langganan Balairung. Siapa tahu, harganya memang murah dan cocok untuk produk PH tahun depan, pikir kami. Jalanan Jogja yang panas, tak meluruhkan niat 4 anak PH yang melancong ke daerah Taman Siswa untuk survey percetakan. Setelah beberapa saat, kami mendapatkan hasil survey. Ternyata belum cocok dengan harga yang diinginkan. Cukuplah itu menjadi referensi harga cetak. Lady berpamitan, dan pada waktu yang hampir bersamaan, sms dari mas Gading (PU Balairung 2011) dan mas Richie (Sekjend PPMI DK Jogja) masuk ke inbox HP saya, sayang sekali karena kami belum bisa ketemu dan berdiskusi lagi, mungkin di lain kesempatan.

        Jelajah Jogja berlanjut ke kediaman keluarga PH, Yuniva. Setelah sebelumnya mampir ke Bakpia Pathok 25, untuk membelikan titipan ibu tercinta, kami bersilaturahim ke Godean, istananya Yuniva. Keramahan keluarga, suasana rumah yang mampu menyihir Dwi dan Rian terlelap beberapa waktu karena capeknya, jamuan yang berlimpah, membuat kami semua makin merasa nyaman, dan, inilah bagian dari keluarga PH. Ba’da Asar mendekati maghrib, saya, Rian, dan Dwi berpamitan pulang ke Magelang dan Semarang. Jalanan desa yang membelah Godean hingga Tempel menghantarkan kami menuju arena perjuangan di Semarang yang siap kita jajaki setelah lawatan siang tadi di UGM.

        Hujan yang mengguyur setelah memasuki kabupaten Magelang, memaksa Scuppiz dan Jangkrik berhenti (Scuppiz> Motor Dwi, Jangkrik> Motor Rifqi) di daerah Bamburuncing, Muntilan, Magelang. Mantel pun dengan sempurnanya menyelimuti tubuh yang baru saja terguyur hujan. Alhamdulillah.

       “Andaikan kalian cewek, atau rifqi cowok, pasti kalian uda rifqi tawarin nginep di tempat rifqi malam ini. Kalian yakin mau pulang Semarang malam-malam dan hujan begini?”, kata saya.

        “Iya Qi, besok tes peminatan juga,” kata rian.

        “Ga apa mbak, ini yang namanya pegorbananan,” kata Dwi.

        Deg, seketika itu perasaan saya makin terharu. Rian, Dwi, Yuni, wajah anak-anak PH, semuanya melayang di benak saya. Saya melepas kepulangan mereka ke Semarang dengan doa keselamatan. Motor kami yang saling melaju dahulu mendahului akhirnya berpisah di SPBU Japunan, selamat jalan keluargaku.

        Sesampai di rumah, sms dari Yuni masuk ke inbox, namanya juga keluarga, pasti saling memastikan keselamatan. Kendati badan capek bukan karuan dan kantuk tak tertahankan, saya bertahan sampai pukul 9 malam, waktu kemungkinan Rian dan Dwi sampai di Semarang. Dua sms dari saya melayang ke HP Rian dan Dwi, satu balasan,

        “Uda nyampe ungaran qi, he..”

Naluri seorang ibu, memastikan sang anak selamat sampai tujuan. Dan saya pun jatuh terlelap tanpa beban dalam tidur yang nikmat. Alhamdulillah.

        Lawatan cinta, untuk PH. Ilmu-ilmu yang kami dapat selama di PH dan diskusi-diskusi di luar, siap kami aplikasikan tahun depan. Lawatan ini, benar-benar membuat kami tersadar akan pentingnya keuangan. (Jer basuki mawa bea, segala seuatu untuk kebaikan pasti mebutuhkan biaya). Otak ini tidak akan berputar sendiri untuk memikirkan pendapatan, tapi dengan perusahaan yang lebih kuat tahun depan, kami yakin, impian kami pasti akan tercapai. Pentingnya buku putih, standar baku produk, dan hal lain, membuat anak-anak tersadar untuk segera merealisasikannya, tanpa perlu saya intruksikan berulang kali. Sekali lagi, salut untuk mereka. Salut untuk keluarga PH semuanya.

       Lawatan cinta, untuk PH. Sehari melawat Jogja, tak lain dan tak bukan demi melihat senyum-senyum yang terkembang dari keluarga kita setahun atau bahkan bertahun-tahun ke depan.

 

Cinta dan keyakinan, adalah awal yang baik untuk melangkah…

karenanya, semangat tak akan pernah padam, ia akan terus membuat hati dan jiwa kita hidup…

meskipun sering ada pergolakan, tak akan membuat semangat itu redup redam..

justru itulah yang akan menjadi warna dalam langkah-langkah kita,

bersiaplah untuk menggoreskan warna baru dalam lembaran kehidupanmu,

sambutlah dengan penuh cinta…

yakinlah, kita PASTI BISA…

 

        Keluargaku, kita ibaratnya bagai sebuah bahtera yang tengah berlayar di samudra.jangan sampai ada yang melubangi bahtera ini, karena kita mungkin akan tenggelam semua. Saling menguatkan keluargaku, jika badai menerpa nanti, rangkulkanlah lengan-lengan kalian agar kita tetap bertahan. Berpeganganlah pada tali-tali yang terikat kokoh dalam bahtera ini, karena kita membawa berlian kebaikan keluargaku, yang harus kita sampaikan di pulau yang berdiri tegak di sana panji-panji kebenaran.

        Menjadi nahkoda dari bahtera berawakkan 55 orang adalah pilihan. Saya telah menerima pilihan itu, dan akan saya bawa bahtera ini sampai selamat di pulau impian itu. Menjaga erat-erat kekokohan 3 pilar PH yang sudah terbangun, Litbang, Redaksi, dan Perusahaan. Amin.

 

PUBLICA HEALTH, we will rock you 2012 ^.^v

 

Huge thanks to:

  • ALLAH SWT, makasi Rabb untuk semuanya..

Saya memilih jalan ini, semata-mata hanya karena ALLAH. Sebagai wujud syukur atas segala nikmat yang ALLAH berikan, dan sebagai wujud kesabaran atas ujian yang ALLAH limpahkan.

Saya memilih jalan ini, sebagai ladang amal dan bekal pulang saya nantinya ke Rahmatullah. Dengan menebar manfaat untuk orang-orang di sekitar saya. Biarlah orang-orang beriman, rasul, dan ALLAHlah yang menilainya. Biarlah ALLAH yang memberikan predikat prestasi kepada saya.

Saya memilih keputusan dan jalan ini, sebagai jalan menyeru pada kebaikan dan kebenaran, karena kehidupan dan kebahagiaan adalah pilihan..

Bersiap untuk sukses dan bahagia di hadapan ALLAH, bersiap untuk menghadapi pilihan dan memutuskan..

 

  • Ibu dan ayah, yang sudah memberikan ijin ke Jogja dan….menjadi PU PH. Prosedur perijinan yang rumit, mengindikasikan kekhawatiran yang rumit pula. Saya tahu apa yang kalian khawatirkan, dan saya akan bertanggung jawab terhadapnya. Biidznillah.
  • Keluarga PH, sesepuh, orangtua, semuanya, yang sudah memberi kepercayaan pada saya untuk dipanggil ‘uyut’ tahun depan.

Uyut Abhy, Uyut Joko, mami pebong, mb ika, mbak ani, mbak nana, mb mega, mb dian, mas abdil, mas fikri, mas mbak lainny: berusaha tak akan mengecewakan harapan & impian kita bersama. 2009, teman2 seperjuangan atiq, amel, yayuk, imam, vian, ikhwan, dkk..makasi dah nemenin selama ini..

Aulia     : wah, nek ra kesel tak ajak sisan mbak sakjane, kapan2 neh ae ya. Thanks for everything u’ve given to me

Rian      : ayo survey lagi,hhe. Siap bikin gebrakan tahun depan buat perusahaan kan???? Kita yang angkatan 2009, berdua doank, tua kita rian,huhuhuu

Dwi      : mendua nie ye,hhe..Tp tep profit dua-duanya. Tep semangat yak, mana pajak HP barunya,hhe. Kasiannya, berangkat dari semarang kepanasan, pulang kehujanan, ga pake masker, nekat c kalian berdua. Hmm… besoknya, kita jalan kemana lagi nie???hhe

Yuniva   : makasi salaknya. Ehemm, buku putih, buku putih,hhe. Redaksi siap melejit tahun depan yak???uehem, pajak motor baru,hhe..yang ngajak ke Balairung sapa, yang dateng paling siang sapa,huuu

Anak-anak PH yang lain, I can’t mention one by one, kangen kumpul ma kalian.. ^.^v

Akhirnya, bisa juga melanglang ke banyak tempat. & terbukti yang bisa jalan2 ga cuma cowok,hehehe,,,makasi PH, gini ni sukanya jd anak pers..

 

  • Relasi BPPM Balairung & awak-awaknya.

Tama    : selamat ya jadi PU, hehe. Mudah-mudahan ke depan makin berbinar Balairungnya. Maaf dan makasi untuk waktunya udah ngricuhin anak-anak di waktu libur natal kemaren..

Ratri Kartika Sari, S.IP (amin) : mantan anak PWK undip,hhe. doain awak-awak PH ya (minjem istilahnya Balairung, pake awak, tapi kayaknya kurang pas buat anak-anak PH,hehe). Doain kami yang mau UAS pasca tahun baru

Fadli     : eh mas fadli maksudnya,hhe. Adek kelasnya mas Fikri & mas Ikhsan. Makasi untuk traktirannya. Gara-gara kata-kata ‘kupinang kau dengan IPK seadanya’ nie, jadi dapet makan siang gretong. Laris dah kaos kampusnya. Btw, soto lamongannya kan belom dapet, boleh dah lain waktu ditraktir lagi,hhe

Fitri     : temennya Asa di JS bukan??hhe. kayaknya Yuniva bakal nggrebek kosnya Fitri tuh, ti ati aja.

Lady     : makasi dah nemenin ke percetakan, yah ga jd ke jogja tiap bulan deh, cetaknya belum sesuai kantong. Intruksi pertamanya PU uda pada pada peka tuh anak-anaknya,hhe. Salam buat Asa juga ya.

Abud    : yang selalu sering nangkring di chat  list,kwkwkwk…semangat abud..

Jojo, mas Gading, mas Richie, anak Bulaksumur yang kemaren pingin tak sapa juga, thanks semuanya

 

Untuk PH, karena kita keluarga..

Wisma MQ,Semarang, 27 Desember 2011. 10. 26 pm

Alhamdulillahirabbil ‘alamin..

Published in: on December 28, 2011 at 11:16 am  Comments (2)  

Semarang dan Bandung, Dua Arah yang Berbeda, Satukanlah Kembali

Kinan masih tak mengerti kenapa sahabatnya memilih untuk menanggalkan jilbabnya.  Bukankah itu sebuah kewajiban? Tapi kenapa ada yang mengatakan itu sebuah pilihan? Singkat Kinan, sesuatu yang wajib tidak perlu untuk dipilih. Masalah kesiapan kah? Lingkungan kah? Tidak. Itu bukanlah menjadi sebuah alasan.

Bandung,  Mei 2010

Di gerbang terminal Cicaheum, sebuah mobil Strada Triton merah terparkir dengan gagahnya. Seorang perempuan memakai T-Shirt merah keluar dari sisi kiri mobil, sementara dari sisi kanan, keluar seorang laki-laki dengan T-shirt putihnya. Kinan yang baru saja keluar dari bis, hanya mengenal perempuan yang keluar dari mobil itu, ia adalah Ratih, sahabat kecilnya di SMP. Bagaimana dengan yang laki-laki? Dari kejauhan, Kinan tak mengenalnya.

Ratih melambaikan tangan, Kinan segera menyambut lambaian tangan itu dengan lari-lari kecil menuju tempat Ratih berdiri. Tanpa komando, mereka berpelukan erat.

“Inan, aku kangen banget ma kamu, eh gimana perjalanan dari Semarang? Lancar kan?”, Ratih menyambut gembira Inan, panggilan Kinan sewaktu SMP dulu.

“Alhamdulillah, lancar Tih, kangen juga nih, lebaran sih, kamu ga ke tempatku lagi,” jawab Kinan sambil melihat penampilan Ratih sekarang, sangat berbeda dengan dulu, ketika SMP, atau paling tidak, ketika ia bertemu Ratih yang terakhir kalinya, 2 tahun lalu ketika SMA.

“Sorry, aku ga pulang Solo lebaran lalu.”

Kinan biasa saja sepertinya mendengar jawaban Ratih. “Oia, maaf Tih, Kinan jadi ngrepotin Ratih di Bandung sampai 5 hari ke depan, maklum sih, baru pertama ke Bandung.”

It’s ok Nan, tinggal aja semau kamu di kos  aku nanti. Oia kenalin dulu, ni cowok aku, kak Ditya. Kak Ditya, ni Inan,” Ratih memperkenalkan laki-laki berkacamata yang memakai T-Shirt putih tadi. Oh, jadi ini pacar Ratih yang ia lihat di facebook Ratih. Cool, terlihat cerdas, dan yang pasti borju.  Kinan sudah tidak kaget lagi.

“Assalamu’alaikum mas,” mulai Kinan.

Laki-laki tadi mengulurkan tangannya pada Kinan, “Wa’alaikumussalam, kenalin, Ditya.”

Kinan menangkupkan tangan di depan dadanya, ia tak menggubris uluran tangan Ditya. Tahu hal seperti itu, Ratih tanggap, “Inan anak rohis ko, jadi ga salaman ma cowok,hehe.” (What, anak rohis, jadi cuma anak rohis aja ni yang ga boleh bersentuhan dengan cowok).

“Eh, daripada kelamaan ngobrol di terminal, ga enak kan, mending kita langsung cabut pulang aja. Uda kesoren juga. Yuk Nan.”

Mereka lalu pergi meninggalkan terminal Cicaheum, menuju kos Ratih.

1 malam berlalu, Kinan dan Ratih larut dalam ajang melepas rindu mereka. Kinan sendiri sesungguhnya menyimpan tanya untuk Ratih, namun diurungkan niatnya untuk bertanya kepada Ratih, ia takut pertanyaannya akan mengusik kebersamaan mereka selama di Bandung. Ya, selama Kinan akan disibukkan dengan keikutsertaannya di Seminar Scholarship and Job Vacancies di ITB, tempat Ratih berkuliah sekarang. Selama 5 hari di Bandung, tak jarang Kinan ditinggal sendiri di kos Ratih, karena tak selamanya Ratih bisa menemani Kinan. Ia punya kesibukan kuliah, seabrek tugas, asistensi, dan yang tak kalah menyita waktunya…menemani Ditya. Pemandangan yang Kinan sudah mulai  tak  asing, ketika Ratih dijemput, diantar pulang, mobil Strada Triton merah yang hampir tiap hari singgah di kos, atau tak jarang ‘kekasih’ itu mengajak Kinan untuk makan bersama, tapi Kinan menolak.

Puas dengan seminarnya, dengan ilmu yang dikantongi, dan mimpinya mendapatkan beasiswa ke Harvard, hari terakhirnya di Bandung Kinan gunakan benar-benar untuk sahabatnya, Ratih. Menyusuri blok-blok kampus Ganesha bersama Ratih, Kinan mulai mengawali pembicaraan. Sampai pada puncaknya, Kinan menanyakan hal yang dipendamnya.

“Tih, masih inget masa-masa SMP kita? Yang dulu kita duduk satu RT, sama Tegar, Ochi, Nanda, Jangkrik juga,.Tau ga, Kinan banyak belajar dari Ratih. Serius.”

“Pastilah, masa-masa gokil kita itu mah. Belajar dari aku? Maksud Inan?”

“Emm, iya, maksud Kinan, Kinan dulu merhatiin Ratih, Ratih yang pernah bilang ke Kinan jilbab itu harus menutup dada. Kinan belajar buat kaya Ratih gitu, trus juga Ratih yang selalu menanyakan keshahihan hadis ketika ada temen yang berdalil. Trus,  emm..”

“Intinya Inan mau ngejudge aku nih gara-gara aku nglepas jilbab?”, Ratih tersulut emosi, ia keliatan tidak suka dengan statement Kinan, seolah-olah mengungkit masa lalunya.

“Ratih, bukan gitu maksud Kinan..”

“Apa lagi coba, ini masalah sebuah pilihan, setiap orang kan punya hak, ini hakku untuk memilih..”

Kondisi ini sudah mulai tidak bersahabat. Kinan memilih mengalah, meski ia ingin sekali tahu alasan Ratih. Kinan memilah dan memilih kata yang tepat untuk meredam suasana. Sebagai sahabat, dia ingin menggugurkan kewajibannya, setidaknya dengan memberikan sahabatnya itu sebuah nasihat. Meski mungkin nantinya nasihat itu useless ataupun tidak.

“Ratih, Kinan ga bermaksud ngejudge Ratih. Oke, mungkin ini masalah pilihan, Kinan yakin betul sebenernya Ratih udah paham mengenai jilbab, terbukti dengan keluarga Ratih yang..”

“Jangan pernah singgung mengenai keluargaku Nan,” Kinan makin tidak mengerti.

“Oke, Kinan ga ngerti duduk perkaranya kenapa Ratih bisa nglepas jilbab gitu, tapi Kinan sayang ma Ratih, Kinan ga pingin ngeliet Ratih jadi…sorry, uncontrolled gitu. Uda lama Kinan merhatiin Ratih, paling ga, lewat info  temen-temen di ITB, facebook,  dan twitternya Ratih. Jilbab as your shield Tih, I think you know about that. “

“Udahan kan ceramahnya, “ (What!! Dibilang ceramah) pikir Kinan, “thanks uda nasihatin, uda banyak juga yang ngasi tahu gitu, tapi aku tegasin, ini pilihanku. Enough.”

“Kinan tetep doain Ratih, don’t worry,” Kinan berusaha mengembalikan keakraban mereka, dengan memasang senyum 227nya. Ratih dingin meski Kinan berusaha menghangat.

Setelah insiden percakapan yang tak bersahabat itu, mereka kembali ke kos Ratih. Kinan menyelesaikan packingnya, kemudian bersiap pulang. Ratih mengantar Kinan ke terminal Cicaheum, hanya sendiri, tanpa Ditya, karena Ditya masih sibuk dengan praktikumnya. Dengan tiket di tangan, Kinan menanti kedatangan bus yang akan membawanya pulang ke Semarang.

“Tih, sorry for all of my mistakes. Kinan berusaha untuk menjadi sahabat yang baik buat Ratih. Kalau perlu apa-apa, just call me Tih.”

“He’em, maaf juga. Ratih harap, Inan paham. Be my best friend forever.”

“Ga mau ah jadi best friendnya Ratih, maunya jadi sisternya aja,hehe. Busnya dah dateng tuh, pamit ya…Shaliha. Assalamu’alaikum.” Kinan memeluk erat Ratih.

“Wa’alaikumussalam. Kabari kalo uda nyampe ya.”

Kinan mengacungkan jempolnya. Ketika dia berjalan ke arah bus, tiba-tiba dia berbalik ke arah Ratih. Ia mengerudungkan penutup kepala yang ada ada pada jumper  Ratih. Ratih yang terlambat menyadarinya, kaget, lalu memegang kepalanya yang sudah terkerudungi itu. Kinan mengembangkan senyuman dan meningggalkan Ratih dengan kekagetannya.

Selama perjalanan pulang, Kinan tak henti menyimpan tanya. Pun begitu, ia tetap mendoakan sahabatnya itu, meski kini ia tak sejalan lagi. Sesungguhnya, Kinan merasa, Ratih yang dulu adalah salah satu pahlawan baginya, kata-kata Ratihlah yang membekas di benak Kinan. Ia banyak berjasa mengingatkan Kinan untuk mengokohkan jilbabnya.

Solo, Januari 2011

Suatu ketika di rumahnya di Solo, Kinan bertemu dengan Azzi, adik Ratih.

“Azzi, kak Ratih pulang ga dek?”

“Kak Ratih pulangnya ke Jember mbak, ke tempat mama.”

(Tempat mama? Apa maksudnya?) pikir Kinan. Pertanyaan yang terakumulasi, satu-satu mulai terjawab juga. Papa dan mama Ratih…bercerai. Broken home,  pemicu goncangnya kestabilan psikologi Ratih. Mungkin itu salah satu alasan Ratih, ia sudah tidak menemukan kenyamanan di keluarganya, tidak ada lagi orangtua harmonis yang menjadi cambuk pengingat untuknya. Pikiran Kinan pun melayang jauh ke belakang, perjalanannya sampai bisa berjilbab dan tentunya juga tentang Ratih serta jilbabnya.

Selepas SMP dulu di Solo, Kinan tetap melanjutkan SMA di Solo. Melalui rohis, kajian di rumahnya, organisasi, ia menemukan keyakinannya untuk berjilbab. Kinan merasakan kedamaian dengan jilbab yang melekat padanya. Sedangkan Ratih, ketika ia lulus, ia masih anggun dan santun dengan jilbabnya, ia lebih memilih untuk meneruskan SMA di Jogja, tepatnya di Sekolah Asisten Apoteker. Selang 2 tahun, ketika lebaran Kinan berkunjung ke rumah Ratih. Tepat saat keluarganya masih bersatu di Solo. Pemandangan yang mengagetkan ketika Kinan berkunjung. Ratih menemui teman-teman laki-lakinya, tanpa jilbab. Fine, Kinan berpositive thingking, mungkin karena Ratih ada di rumahnya, belum bisa full mengenakan jilbabnya. Atau ada hal lain, mungkin pergaulannya di Jogja sudah sedikit menggoyangkan keteguhannya. Kinan hanya bisa berdoa.

Jilbab Kinan tetap melekat erat ketika ia memasuki dunia perkuliahan di UNNES. 2 sahabat itu berjalan berbeda arah, UNNES, Semarang dan Sekolah Farmasi ITB, Bandung. Kehidupan Bandung mungkin jauh berbeda memberikan pengaruhnya, akhirnya pengaruh itu makin nyata nampak ketika suatu saat Kinan menemukan facebook Ratih telah berganti nama, Ratih Anjani Sanjaya. In relationship with Raditya Sanjaya serta profil picture yang terpampang, Ratih bersama Ditya, Ratih menggeraikan rambutnya.

Semarang, Mei 2011

1 tahun sejak pertemuan Kinan dengan Ratih di Bandung. Masih terpikir di benaknya, kenapa muslimah yang dulu anggun dengan jilbabnya, cantik, bersahaja, dengan mudahnya menanggalkan apa yang menjadi identitasnya itu. Sedang dirinya, merasakan damai yang tak terhingga dengan jilbabnya, terus mempertahankannya. Hakikatnya, ia merasakan apa yang menjadi kewajibnnya untuk menutup auratnya, tak dapat ditawar lagi. Ini sebuah kewajiban.

Tersadar, saat bermunajat pada Rabbnya, Kinan berucap, “Ya muqallibalqulub, tsabbit qalbi ‘ala dinnika, Rabb, yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada ketetapan agamaMu, beriman kepadaMu, Rabb.” (Astaghfirullah, bukankah doa itu menunjukkan hak ALLAH, hak menguasai hati para makhluknya. Kenapa aku melupakan hal itu, ALLAH lah yang mempunyai hak memberikan hidayah pada hambaNya, termasuk aku dan Ratih) pikir Kinan.

Kinan mengerti, ia kembalikan semuanya pada Rabbnya, syukurnya tak terhenti. Hidayah ALLAH lah yang tetap membalut jilbabnya dengan dirinya. Harapnya pun tak henti agar hidayah ALLAH turun pada sahabatnya, agar ia kembali mengerudungkan jilbabnya.

Published in: on October 18, 2011 at 2:35 pm  Leave a Comment  

MENGGALANG POTENSI DIRI

Sungguh tiada terkira nikmat Allah Yang Maha Rahim kepada umat Islam, bahkan umat manusia. Allah SWT. Melengkapi manusia dengan kesempurnaan fisik, kemampuan berpikir, dan sarana yang melimpah ruah di jagat alam semesta ini. Namun mengapa umat manusia seolah-olah tidak pernah menyadari bahwa semua karunia tersebut semata-mata Allah sediakan untuk keperluan ibadah? Jawabannya tiada lain karena bisikan setan yang tiada henti-hentinya membakar hawa nafsu manusia, sehingga kotorlah kalbu tempat Allah menanamkan benih-benih fitrah kebaikan dalam diri kita.

Karena kalbu kotor manusia cenderung mengikuti hawa nafsu. Naudzubillah. Apa upaya kita untuk membersihkan kalbu yang kotor ini? Hanya ada satu dan butuh perjuangan yang sangat keras, yaitu kembali untuk mengkaji dan mengamalkan Alquran dan Sunnah. Itulah prestasi yang hakiki, dan itulah yang menjadi harapan kita bersama. Kembangkan gairah prestasi fitrah yang kita miliki ini karena hidup hanya satu kali. Tanamkan keyakinan bahwa hidup adalah untuk mengukir prestasi yang bermakna bagi dunia dan berarti bagi akhirat nanti. Untuk itu kita harus mampu memanfaatkan semaksimal mungkin waktu yang ada agar tidak terbuang sia-sia.

Untuk menjadi orang yang berprestasi, setidaknya ada dua hal yang harus kita perhatikan. Pertama, selalu berusaha sekuat tenaga untuk menjaga nama baik, karena nama baik akan membentuk citra positif bagi kita masyarakat sehingga orang lain mau membuka diri dan bekerja sama dengan kita. Kedua, selalu berusaha sekuat tenaga untuk menambah wawasan dan mengembangakan keilmuan. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, mengenal, memahami, dan mengamalkan sesuatu hal yang bermanfaat bagi kita dan orang lain. Usia yang terus bertambah bukan menjadi halangan bagi sesorang untuk terus mewningkatkan kualitas diri. Karena itu, bagi orang-orang yang tidak pernah memperhitungkan nama baik dengan bersikap tidak jujur, licik, janji tidak ditepati, tidak disiplin, berdusta, berkhianat, maka hal tersebut akan merugikan diri sendiri. Lambat laun kredibilitas diri kita di masyarakat akan hancur, sehingga kehadiran kitapun tidak akan diperhitungkan.

Saudaraku, sudah menjadi suatu keharusan bagi siapapun untuk terus-menerus menggalang potensi kekuatan yang ada pada dirinya. Hal tersebut akan terlaksana apabila kita mulai menerapkan kedisiplinan pada diri sendiri. Untuk memaksimalkan potensi diri, kita harus berniat untuk terus belajar dan mengembangkan diri, membiasakan diri untuk tidak bergantung pada orang lain dan selalu berusaha untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan.

Kita harus selalu berusaha untuk mengoptimalkan kemampuannya dengan seluruh daya upayanya, sehingga menjadi manusia unggul yang selalu berkaraya dengan diiringi amar ma’ruf nahi munkar. Yakinlah, bahwa setiap manusia berpotensi untuk menjadi orang yang professional di bidangnya. Untuk itulah harus ditegakkan disiplin tinggi dalam ibadah, disiplin dalam waktu, disiplin dalam ketertiban, disiplin dalam menjalankan peraturan dan tugas serta hal-hal lainnya yang positif. Sungguh siapa pun yang tidak memiliki disiplin dalam melaksanakan suatu program, tidak akan ada maknanya dan tidak akan bermanfaat bagi dirinya apalagi bagi orang lain.

Kita harus bermental baja, pantang menyerah, pantang mengeluh dalam menghadapi hambatan apa pun, tidak melakukan suatu pekerjaan dengan setengah-setengah, selau berusaha melakukan yang terbaik, antisipatif terhadap perubahan dan selalu siap menyikapi perubahan.. Jadikan hari ini kita sebagai hari-hari berkualitas, berharga tinggi di depan Allah, jam demi jam maupun detik demi detik berharga sangat tinggi di hadapan Allah. Karena itu tidak patut kita bermalas-malasan atau melakukan sesuatu yang sia-sia. Semoga semakin  hari kita semakin menyadari bahwa hidup adalah untuk berprestasi, bermakna bagi dunia dan berarti bagi akhirat. Wallahu a’lam bish shawab.

Beradasarkan Materi Manajemen Qolbu

KH. Abdullah Gymnastiar

Published in: on June 21, 2011 at 3:52 pm  Leave a Comment  

Hadapi Hidup Ini Apa Adanya!

Kondisi dunia ini penuh kenikmatan, banyak pilihan, penuh rupa, dan banyak warna. Semua itu bercampur baur dengan kecemasan dan kesulitan hidup. Dan, Anda adalah bagian dari dunia yang berada dalam kesukaran.

 

Anda tidak akan pernah menjumpai seorang ayah, istri, kawan, sahabat, tempat tinggal, atau pekerjaan yang padanya tidak terdapat sesuatu yang menyulitkan. Bahkan kadangkala justru pada setiap hal itu terdapat sesuatu yang buruk dan tidak Anda sukai. Maka dari itu, padamkanlah panasnya keburukan pada setiap hal itu dengan dinginya kebaikan yang ada padanya. Itu kalau Anda mau selamat dengan adil dan bijaksana. Pasalnya, betapapun setiap luka ada harganya.

 

Allah menghendaki dunia ini sebagai tempat bertemunya dua hal yang saling berlawanan, dua jenis yang saling bertolak belakang, dua kubu yang saling berseberangan, dan dua pendapat yang saling berseberangan. Yakni, yang baik dengan yang buruk, kebaikan dengan kerusakan, kebahagiaan dengan kesedihan. Dan setelah itu, Allah akan mengumpulkan semua yang baik, kebagusan dan kebahagiaan itu di surga. Adapun yang buruk, kerusakan dan kesedihan akan dikumpulkan di neraka. “Dunua ini terlaknat, dan terlaknat semua yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan semua yang berkaitan dengannya, seorang ‘alim dan seorang belajar,” begitu hadist berkata.

 

Maka jalanilah hidup ini sesuai dengan kenyataan yang ada. Jangan larut dalam khayalan. Dan, jangan pernah menerawang kealam imajinasi. Hadapi kehidupan ini apa adanya; kendalikan jiwa Anda untuk dapat menerima dan menikmatinya! Bagaimanapun, tidak mungkin semua teman tulus kepada Anda dan semua perkara sempurna di mata Anda. Sebab, ketulusan dan kesempurnaan itu ciri dan sifat kehidupan dunia.

 

Bahkan, istri Anda pun tak akan pernah sempurna di mata Anda. Maka kata hadist, “Janganlah seorang mukmin mencela seorang mukminah (istrinya),sebab jika dia tidak suka pada salah satu kebiasaannya maka dia bisa menerima kebiasaannya yang lain.”

 

Adalah seyogyanya bila kita merapatkan barisan, menyatukan langkah, saling memaafkan dan berdamai kembali, mengambil hal-hal yang mudah kita lakukan, meninggalkan hal-hal yang menyulitkan, menutup mata dari beberapa hal untuk saat-saat tertentu, meluruskan langkah, dan mengesampingkan berbagi hal yang mengganggu.

Diambil dari buku “La Tahzan” (Jangan bersedih)

Published in: on June 21, 2011 at 3:50 pm  Leave a Comment  

Membangun Pendidikan Berkarakter

Menuruf Dr. Khoirudin Bashori, Ada 5 hal yang perlu diperhatikan dalam membangun pendidikan berkarakter, yaitu Keteladanan, Pembiasaan, Nasihat, Pengawasan, dan nasihat.
1. Keteladanan

Seorang guru, orang tua, maupun masyarakat, harus senantiasa menampakkan, memberikan teladan yang baik kepada anak. Guru, orang tua, masyarakat sebagai “Orang Dewasa” menjadi panutan dalam pandangan seorang anak. Anak lebih yakin apa yang dia lihat daripada yang diucapkan orang dewasa. Karena, apa yang dia lihat adalah yang dilakukan, kalau orang dewasa melakukan maka menurut pandangan anak itu diperbolehkan.

Maka, pendidikan akan lebih efektif jika diberi contoh dan dilaksanakan langsung. Misalnya: Jika guru ingin anak didiknya rajin sholat dhuha, maka guru harus lebih dahulu datang lebih awal mengerjakan sholat dhuha. Begitu pun juga bagi orang tua.

2. Pembiasaan

Setelah Anak diberi contoh yang baik, maka kebaikan itu harus dibiasakan bersama-sama. Taori reward and punishment boleh diterapkan. Misalnya: Kalau anak ternyata lebih rajin melakukan kebaikan itu maka perlu dikasih reward baik berupa sanjungan maupun barang. Adapun kalau ternyata si anak tidak melakukannya, maka perlu diberi hukuman yang mendidik.

3. Nasihat

Nasihat dapat menjadi motivator bagi anak ketika anak dalam discomfort zone (ketidaknyamanan) dalam membiasakan kebaikan. Membiasakan kebaikan kadang membosankan, apalagi di lingkungan tersebut kebaikan itu jarang dilakukan oleh teman sejawatnya. Misalnya: Orang tua membiasakan anaknya agar puasa senin dan kamis padahal teman-teman sejawatnya tidak pernah puasa. Saat inilah, orang tua perlu memberikan nasihat bahwa puasa itu perbuatan yang mulia.

4. Pengawasan

Setiap orang tua/guru perlu melakukan pengawasan terhadap anak baik secara langsung atau tidak langsung. Tapi jangan sampai anak merasakan discomfort zone/gerah karena pengawasan yang terlalu ketat. Dalam pengawasan yang lebih penting bagaimana kita menanamkan nilai-nilai transenden kepada anak, sehingga muncul kesadaran diri untuk mengontrol perbuatannya. Misalnya kita kenalkan tugas malaikat Roqib dan Atid yang senantiasa mencatat gerak-gerik perbuatan kita.

5. Hukuman

Hukuman perlu tapi merupakan jalan terakhir. Hukuman harus mendidik, bukan pula menyakiti fisiknya. Jangan sampai hukuman kepada anak sampai melampaui batas dan melanggar udang-undang No. 23 Tahun 2002 Perlindungan Anak, Pasal 80 ayat 1-4 yang berbunyi :

(1) Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaanterhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).

(2) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00
(seratus juta rupiah).

(3) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

(4) Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya.

Sumber:

http://thejargon.multiply.com/journal/item/672/Membangun_Pendidikan_Berkarakter

didownload pada 15 Mei 2011

Published in: on May 15, 2011 at 7:24 am  Leave a Comment  

Belanja Kondom

Sabtu malam (30/4/2011) saya bersama Nyndia pergi menuju Apotek K-24 di Jl. Dr.Wahidin (Tanah Putih, Kaliwiru) untuk melaksanakan tugas mata kuliah Kewirausahaan yaitu survey produk barang berupa kondom. Awalnya kami ragu untuk melaksanakan tugas ini dikarenakan kami malu. Tapi kami tetap melaksanakannya demi tugas dan pengalaman. Sesampainya di parking area apotek K-24 kami tertawa-tertawa sendiri karena malu dan ragu, sempat terbesit keinginan untuk pulang saja, tapi sayang karena sudah sampai di Kaliwiru. Kami memasuki apotek, menunggu sampai keadaan agak sepi, Sungguh saat itu tangan saya sudah berkeringat (padahal ruangan ber-AC), grogi, malu, geli, bercampur aduk. Saya dan Nyndia memberanikan diri mendekati petugas laki-laki (2 orang) untuk bertanya mengenai kondom yang dijual di apotek K-24. Kami pun mendapatkan berbagai macam penjelasan mengaenai kondom.

Kondom yang dijual di apotek k-24 sengaja diletakkan di etalase yang berada di sudut dalam apotek. Menurut mas Khafid dan temannya (petugas apotek), bagi pembeli yang sudah biasa atau sering mengunjungi apotek untuk memebeli kondom, mereka akan langsung menuju etalase di sudut apotek. Pembeli yang membeli kondom adalah pasangan suami istri, laki-laki muda, bahkan ada perempuan muda yang membeli kondom. Waktu teramai pembelian kondom adalah hari sabtu malam di atass pukul 22.00 (malam minggu).  Dari penuturan petugas, banyak juga pemuda-pemuda (yang disinyalir sebagai mahasiswa) yang membeli kondom. Petugas menganggap ini sebagai hal yang biasa, artinya bukan lagi menjadi sebuah tabu atau hal yang memalukan, karena kondom memang sekarang dianggap wajar. Para pembeli seringkali tidak menyebutkan nama kondom secara langsung, namun menggunakan istilah-istilah seperti ‘cap’, ‘sarung’, ‘pengaman’, ‘helm’, ataupun ‘permen karet’.

Kondom-kondom yang dijual di apotek K-24, tersedia dalam 2 pack, pack kecil dan pack besar. Pack kecil terdiri dari 3 buah kondom, Sedangkan pack besar terdiri dari 12 kondom. Produk kondom yang saat itu tersedia di apotek antara lain produk bermerk ‘SUTRA’, ‘SIMPLEX’, ‘DUREX’, dan ‘FIESTA’. Beberapa stock kondom sudah habis, belum ada pasokan lagi. Termasuk tidak adanya kondom untuk wanita yang disediakan di sana karena habis. Beberapa keterangan mengenai jenis dari produk kondom yang dijual antara lain:

  1. Merk SUTRA

Merk ini termasuk dalam range harga kondom yang murah. Harganya berkisar ± Rp 3.000,00. Ada dua varian SUTRA yang dijual, yaitu dengan pembungkus warna merah dan hitam. Hanya ada sedikit perbedaan antara kedua varian ini, bahkan petugas menganggapnya sama saja, tergantung selera pembeli.

  1. Merk SIMPLEX

Perbedaan antara varian SIMPLEX yang ada di apotek ini hanya masalah rasa(aroma) saja. SIMPLEX memiliki beberapa rasa, antara lain mangga, durian, dan coklat. Sama halnya dengan merk lain, pembelian kondom ini tergantung selera pemebeli. Menurut petugas, merk ini kurang begitu diminati, pasalnya promosi SIMPLEX kurang begitu diketahui oleh public sebagai akibat kurang gencarnya iklan di media televisi.

  1. Merk DUREX

Merk DUREX adalah merk yang memiliki ‘gengsi’ atau ‘prestise’ paling tinggi dari kesemua merk. Harganya yang mahal (± Rp 12.000,00) membuat beberapa pembeli merasa lebih aman memakai produk ini. Juga tampilan bungkusnya yang terkesan elegan dengan warna merah, biru, hitam serta varian yang terkesan elite membuat produk ini banyak konsumennya walaupun harga jualnya di atas harga kondom yang lain. DUREX memiliki beberapa varian antara lain Fetherlite, Love, dan beberapa varian yang lain. Masing-masing varian ini memiliki beberapa keunggulan, antara lain ada yang memiliki ketebalan lebih, ada yang berpelumas lebih, ada yang berkepala, dan sebagainya. Kembali lagi, tergantung selera konsumen.

  1. Merk FIESTA

Merk FIESTA adalah merk kondom yang murah meriah, murah karena harganya yang berada di bawah DUREX (± Rp 5.000,00) dan meriah karena memilki banyak varian. FIESTA terbagi menjadi dua subjenis, yaitu yang berasa dan yang tidak berasa. Yang berasa tersedia dalam beberapa rasa, yaitu rasa nanas, strawberry, pisang, dan sebagainya. Sedangkan yang tidak berasa memilki beberapa varian, antara lain dotted, classic, dan lain-lain. Masing-masing varian memiliki kekhasan ataupun keunggulan tersendiri, ada yang bergerigi, ada yang lebih panjang, ada yang beraroma melati, dan lain-lain. Untuk pembelian, tetap sama, tergantung selera pembeli.

Dari penjelasan di atas, kesemua merk sebenarnya memiliki kekhasan tersendiri, Selera pembeli lah yang menentukan banyak sedikitnya produk yang terjual. Faktor lain yang mempengaruhi adalah pengetahuan pembeli mengenai jenis-jenis kondom yang mereka dapatkan baik melalui pembelajaran formal maupun promosi di berbagai media.

Setelah mendapatkan cukup informasi mengenai kondom yang dijual di apotek K-24, masing-masing dari kami membeli 1 pack kecil kondom sebagai bukti bahwa kami telah melaksanakan tugas survey ini. Saya membeli kondom merk FIESTA varian classic seharga Rp 4.950,00 dan Nyndia membeli kondom FIESTA dengan varian dotted. Sebelum kami pulang, petugas apotek berpesan kepada kami, “Mbak, setelah ini jangan langsung dipakai ya. Tunggu sampai saatnya nanti.” (Terimakasih mas, atas nasihatnya).

Published in: on May 15, 2011 at 6:56 am  Comments (1)  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.