Bismillahirrahmanirrahim..
Insan-insan pengubah dunia, adalah mereka yang bisa memetik pelajaran dari setiap kejadian.
Mereka akan selalu belajar dari lingkungan yang positif.
Menjadikan setiap kesempatan menjadi sesuatu yang penuh makna.
Yogyakarta, 26 Desember 2011
Kursi beton yang saling berhadapan di depan sebuah rumah bernomor B21 di kompleks perumahan dosen UGM, menjadi tempat penantian kami. Saya bersama seorang teman berpakaian club sepakbola AC Milan dan seorang adik berpakaian MU, berjanji akan bertemu dengan awak-awak BPPM Balairung pada hari itu. Efek samping studi banding (11/9) yang kurang lama mungkin, sampai kami harus melawat lagi ke UGM. Atau karena sang Pemimpin Umum PH yang baru, yang selalu bersemangat ketika menyambut ajakan ke UGM, lupakan. Saya bersama Marianus dan Dwiyanto, memang berniat melawat lagi ke Balairung. Impian akan kehidupan PH yang lebih baik lah yang mendorong kami, hingga Marianus dan Dwi rela menempuh perjalanan 90 km lebih untuk sekadar berdiskusi dengan teman-teman Balairung. Kehausan akan ilmulah, yang memanggil jiwa kami sejenak meluangkan waktu di minggu tenang pra UAS,untuk bertandang ke relasi di UGM ini, padahal teman-teman yang lain mungkin sudah asik dengan diktat kuliah mereka masing-masing. Inilah pilihan kami.
Pukul 10 lebih, sekre Balairung masih dengan suasana sejuknya, dan spanduk sisa-sisa oprek yang masih bertengger di pelataran, sekre terasa sepi. Tama, PU baru Balairung belum nampak. Namun, kami tetap menunggu. Satu keluarga kami yang ditunggu-tunggu pun belum hadir, Yuniva. Herannya, dia yang bertempat tinggal di Yogya, justru belum ada. Hanya tertawa saja dengan ulah anak PH yang satu ini. Sembari kami melepas lelah setelah perjalanan, Tama pun datang. Dia yang ternyata rela menunggu dari pukul 9 pagi, belum sarapan, dan terpaksa ke angkringan dulu untuk memenuhi hak tubuhnya. Tanpa banyak prolog, kami pun memulai diskusi seputar PH dan Balairung. Di forum ini, sebenarnya saya hanya sebagai pengantar saja, Rian dan Dwi lah yang memang haus akan ilmu ke-Perusahaan-an. Benar-benar cakrawala kami terbukakan di forum ini. Saya melihat greget yang tersirat dari muka-muka Rian dan Dwi akan kemajuan perusahaan PH tahun depan. Salut untuk mereka.
Awak Balairung generasi pembaharuan satu per satu susul menyusul berdatangan. Seakan kami keluarga sendiri, mereka begitu supel dan ramah menyambut kami. Fitri (pimred), Fadli (pimprus), Ratri, Jojo, Abud, Lady, semua cair dalam suasana diskusi yang hangat, diselingi dengan gurauan, yang makin membuat betah kami semua di bawah rindangnya pohon beringin B21. Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 11 lewat. Diskusi kami sudah meluap-luap, namun Yuni tetap saja belum datang. Kami semua menantimu Yun, batin kami, karena kamu yang juga bersemangat untuk menggali ilmu tentang ke-Redaksi-an, datanglah segera. Beberapa saat setelahnya, dia datang, lengkap dengan satu paket konsekuensi keterlambatan yang meluluhkan hati kami, 3 botol minuman dan 2 bungkus cookies. Yummy.
Diskusi yang semakin seru, kami pangkas sementara guna memenuhi panggilan ALLAH di waktu dhuhur. Setelah itu, kami berlaga kembali dengan argumen-argumen seputar PH dan Balairung, lebih tepatnya fokus utama mengenai redaksi dan perusahaan. Semangat yang menggebu makin nampak pada diri Rian, Dwi, dan Yuni. Pertanyaan seputar webmaster, percetakan, menjaga eksistensi lembaga, kavling iklan, siasat menghadapi birokrasi, diklat, riset baca, dan banyak lainnya meluncur halus dari mulut mereka. Mereka melontarkan impian-impian yang sungguh membuat saya tertegun penuh haru. Kalau semangat mereka sudah sedemikian besarnya, maka saya mematok semangat 27 kali di atas mereka. Sampai sedemikian besarnya semangat mereka, sampai tawaran menggiurkan percetakan murah di Jogja pun akan mereka sambangi. Bahkan, jika memang benar-benar mendukung untuk mencetak produk PH tahun depan, sang Pimpinan Redaksi bekerjasama dengan sang Pimpinan Perusahaan PH, rela meluangkan waktunya tiap bulan untuk ke Jogja. Sungguh, semangat yang membuat saya tersenyum penuh bangga.
Sayang sebenarnya, masih ingin berlama-lama di sekre Balairung. Namun, kami juga punya target waktu untuk kembali ke Semarang. Jadilah saat itu kami berpamitan. Saya menahan kelu haru untuk meninggalkan kampus biru ini. Terima kasih Tama dan jajarannya. Mungkin suatu ketika, kami akan bertandang kembali dengan suasana yang lebih ramah lagi. Atau, kami akan melawat relasi yang berada satu atap dengan Balairung, Bulaksumur. Entahlah, suatu ketika nanti.
Keramahan awak Balairung tak berhenti di situ saja. Kami makan siang bersama di Soto Lamongan Pak No, daerah Karangmalang. Sambil menggoda anak-anak PH yang baru kejatuhan risky, kami saling menodong meminta traktiran. Yuniva dengan pajak motor barunya, Dwiyanto dengan pajak HP barunya, dan Rian dengan pajak natalannya, semuanya saling mengelak. Tanpa disangka-sangka, risky traktiran datang dari Fadli, awak Balairung yang sedang mengembangkan usaha kaos kampusnya. Karena kami tamu katanya, dan karena kaos kampusnya sudah mulai dikenal anak UNDIP juga. Super sekali. Setelah makan siang, Lady mengantar kami menuju Berkah Offset, percetakan langganan Balairung. Siapa tahu, harganya memang murah dan cocok untuk produk PH tahun depan, pikir kami. Jalanan Jogja yang panas, tak meluruhkan niat 4 anak PH yang melancong ke daerah Taman Siswa untuk survey percetakan. Setelah beberapa saat, kami mendapatkan hasil survey. Ternyata belum cocok dengan harga yang diinginkan. Cukuplah itu menjadi referensi harga cetak. Lady berpamitan, dan pada waktu yang hampir bersamaan, sms dari mas Gading (PU Balairung 2011) dan mas Richie (Sekjend PPMI DK Jogja) masuk ke inbox HP saya, sayang sekali karena kami belum bisa ketemu dan berdiskusi lagi, mungkin di lain kesempatan.
Jelajah Jogja berlanjut ke kediaman keluarga PH, Yuniva. Setelah sebelumnya mampir ke Bakpia Pathok 25, untuk membelikan titipan ibu tercinta, kami bersilaturahim ke Godean, istananya Yuniva. Keramahan keluarga, suasana rumah yang mampu menyihir Dwi dan Rian terlelap beberapa waktu karena capeknya, jamuan yang berlimpah, membuat kami semua makin merasa nyaman, dan, inilah bagian dari keluarga PH. Ba’da Asar mendekati maghrib, saya, Rian, dan Dwi berpamitan pulang ke Magelang dan Semarang. Jalanan desa yang membelah Godean hingga Tempel menghantarkan kami menuju arena perjuangan di Semarang yang siap kita jajaki setelah lawatan siang tadi di UGM.
Hujan yang mengguyur setelah memasuki kabupaten Magelang, memaksa Scuppiz dan Jangkrik berhenti (Scuppiz> Motor Dwi, Jangkrik> Motor Rifqi) di daerah Bamburuncing, Muntilan, Magelang. Mantel pun dengan sempurnanya menyelimuti tubuh yang baru saja terguyur hujan. Alhamdulillah.
“Andaikan kalian cewek, atau rifqi cowok, pasti kalian uda rifqi tawarin nginep di tempat rifqi malam ini. Kalian yakin mau pulang Semarang malam-malam dan hujan begini?”, kata saya.
“Iya Qi, besok tes peminatan juga,” kata rian.
“Ga apa mbak, ini yang namanya pegorbananan,” kata Dwi.
Deg, seketika itu perasaan saya makin terharu. Rian, Dwi, Yuni, wajah anak-anak PH, semuanya melayang di benak saya. Saya melepas kepulangan mereka ke Semarang dengan doa keselamatan. Motor kami yang saling melaju dahulu mendahului akhirnya berpisah di SPBU Japunan, selamat jalan keluargaku.
Sesampai di rumah, sms dari Yuni masuk ke inbox, namanya juga keluarga, pasti saling memastikan keselamatan. Kendati badan capek bukan karuan dan kantuk tak tertahankan, saya bertahan sampai pukul 9 malam, waktu kemungkinan Rian dan Dwi sampai di Semarang. Dua sms dari saya melayang ke HP Rian dan Dwi, satu balasan,
“Uda nyampe ungaran qi, he..”
Naluri seorang ibu, memastikan sang anak selamat sampai tujuan. Dan saya pun jatuh terlelap tanpa beban dalam tidur yang nikmat. Alhamdulillah.
Lawatan cinta, untuk PH. Ilmu-ilmu yang kami dapat selama di PH dan diskusi-diskusi di luar, siap kami aplikasikan tahun depan. Lawatan ini, benar-benar membuat kami tersadar akan pentingnya keuangan. (Jer basuki mawa bea, segala seuatu untuk kebaikan pasti mebutuhkan biaya). Otak ini tidak akan berputar sendiri untuk memikirkan pendapatan, tapi dengan perusahaan yang lebih kuat tahun depan, kami yakin, impian kami pasti akan tercapai. Pentingnya buku putih, standar baku produk, dan hal lain, membuat anak-anak tersadar untuk segera merealisasikannya, tanpa perlu saya intruksikan berulang kali. Sekali lagi, salut untuk mereka. Salut untuk keluarga PH semuanya.
Lawatan cinta, untuk PH. Sehari melawat Jogja, tak lain dan tak bukan demi melihat senyum-senyum yang terkembang dari keluarga kita setahun atau bahkan bertahun-tahun ke depan.
Cinta dan keyakinan, adalah awal yang baik untuk melangkah…
karenanya, semangat tak akan pernah padam, ia akan terus membuat hati dan jiwa kita hidup…
meskipun sering ada pergolakan, tak akan membuat semangat itu redup redam..
justru itulah yang akan menjadi warna dalam langkah-langkah kita,
bersiaplah untuk menggoreskan warna baru dalam lembaran kehidupanmu,
sambutlah dengan penuh cinta…
yakinlah, kita PASTI BISA…
Keluargaku, kita ibaratnya bagai sebuah bahtera yang tengah berlayar di samudra.jangan sampai ada yang melubangi bahtera ini, karena kita mungkin akan tenggelam semua. Saling menguatkan keluargaku, jika badai menerpa nanti, rangkulkanlah lengan-lengan kalian agar kita tetap bertahan. Berpeganganlah pada tali-tali yang terikat kokoh dalam bahtera ini, karena kita membawa berlian kebaikan keluargaku, yang harus kita sampaikan di pulau yang berdiri tegak di sana panji-panji kebenaran.
Menjadi nahkoda dari bahtera berawakkan 55 orang adalah pilihan. Saya telah menerima pilihan itu, dan akan saya bawa bahtera ini sampai selamat di pulau impian itu. Menjaga erat-erat kekokohan 3 pilar PH yang sudah terbangun, Litbang, Redaksi, dan Perusahaan. Amin.
PUBLICA HEALTH, we will rock you 2012 ^.^v
Huge thanks to:
- ALLAH SWT, makasi Rabb untuk semuanya..
Saya memilih jalan ini, semata-mata hanya karena ALLAH. Sebagai wujud syukur atas segala nikmat yang ALLAH berikan, dan sebagai wujud kesabaran atas ujian yang ALLAH limpahkan.
Saya memilih jalan ini, sebagai ladang amal dan bekal pulang saya nantinya ke Rahmatullah. Dengan menebar manfaat untuk orang-orang di sekitar saya. Biarlah orang-orang beriman, rasul, dan ALLAHlah yang menilainya. Biarlah ALLAH yang memberikan predikat prestasi kepada saya.
Saya memilih keputusan dan jalan ini, sebagai jalan menyeru pada kebaikan dan kebenaran, karena kehidupan dan kebahagiaan adalah pilihan..
Bersiap untuk sukses dan bahagia di hadapan ALLAH, bersiap untuk menghadapi pilihan dan memutuskan..
- Ibu dan ayah, yang sudah memberikan ijin ke Jogja dan….menjadi PU PH. Prosedur perijinan yang rumit, mengindikasikan kekhawatiran yang rumit pula. Saya tahu apa yang kalian khawatirkan, dan saya akan bertanggung jawab terhadapnya. Biidznillah.
- Keluarga PH, sesepuh, orangtua, semuanya, yang sudah memberi kepercayaan pada saya untuk dipanggil ‘uyut’ tahun depan.
Uyut Abhy, Uyut Joko, mami pebong, mb ika, mbak ani, mbak nana, mb mega, mb dian, mas abdil, mas fikri, mas mbak lainny: berusaha tak akan mengecewakan harapan & impian kita bersama. 2009, teman2 seperjuangan atiq, amel, yayuk, imam, vian, ikhwan, dkk..makasi dah nemenin selama ini..
Aulia : wah, nek ra kesel tak ajak sisan mbak sakjane, kapan2 neh ae ya. Thanks for everything u’ve given to me
Rian : ayo survey lagi,hhe. Siap bikin gebrakan tahun depan buat perusahaan kan???? Kita yang angkatan 2009, berdua doank, tua kita rian,huhuhuu
Dwi : mendua nie ye,hhe..Tp tep profit dua-duanya. Tep semangat yak, mana pajak HP barunya,hhe. Kasiannya, berangkat dari semarang kepanasan, pulang kehujanan, ga pake masker, nekat c kalian berdua. Hmm… besoknya, kita jalan kemana lagi nie???hhe
Yuniva : makasi salaknya. Ehemm, buku putih, buku putih,hhe. Redaksi siap melejit tahun depan yak???uehem, pajak motor baru,hhe..yang ngajak ke Balairung sapa, yang dateng paling siang sapa,huuu
Anak-anak PH yang lain, I can’t mention one by one, kangen kumpul ma kalian.. ^.^v
Akhirnya, bisa juga melanglang ke banyak tempat. & terbukti yang bisa jalan2 ga cuma cowok,hehehe,,,makasi PH, gini ni sukanya jd anak pers..
- Relasi BPPM Balairung & awak-awaknya.
Tama : selamat ya jadi PU, hehe. Mudah-mudahan ke depan makin berbinar Balairungnya. Maaf dan makasi untuk waktunya udah ngricuhin anak-anak di waktu libur natal kemaren..
Ratri Kartika Sari, S.IP (amin) : mantan anak PWK undip,hhe. doain awak-awak PH ya (minjem istilahnya Balairung, pake awak, tapi kayaknya kurang pas buat anak-anak PH,hehe). Doain kami yang mau UAS pasca tahun baru
Fadli : eh mas fadli maksudnya,hhe. Adek kelasnya mas Fikri & mas Ikhsan. Makasi untuk traktirannya. Gara-gara kata-kata ‘kupinang kau dengan IPK seadanya’ nie, jadi dapet makan siang gretong. Laris dah kaos kampusnya. Btw, soto lamongannya kan belom dapet, boleh dah lain waktu ditraktir lagi,hhe
Fitri : temennya Asa di JS bukan??hhe. kayaknya Yuniva bakal nggrebek kosnya Fitri tuh, ti ati aja.
Lady : makasi dah nemenin ke percetakan, yah ga jd ke jogja tiap bulan deh, cetaknya belum sesuai kantong. Intruksi pertamanya PU uda pada pada peka tuh anak-anaknya,hhe. Salam buat Asa juga ya.
Abud : yang selalu sering nangkring di chat list,kwkwkwk…semangat abud..
Jojo, mas Gading, mas Richie, anak Bulaksumur yang kemaren pingin tak sapa juga, thanks semuanya
Untuk PH, karena kita keluarga..
Wisma MQ,Semarang, 27 Desember 2011. 10. 26 pm
Alhamdulillahirabbil ‘alamin..